Sejak dahulu hama wereng sudah dikenal sebagai serangga utama perusak tanaman padi disamping walang sangit. Indonesia sendiri pernah mengalami endemik hama wereng bagi seluruh petani padi di negeri ini. Oleh karena itu diciptakanlah inovasi baru yaitu VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng).
Namun demikian bukan berarti serangan wereng benar-benar hilang. Petani pun masih harus menggunakan pestisida untuk mengatasi wereng. Baca juga Cara Mengatasi Penyakit Hawar Daun Padi
Penggunaan pestisida kimia memang bisa langsung memberikan hasil nyata yang cepat dan efektif untuk membasmi wereng. Namun demikian pestisida kimia juga memiliki beberapa sisi kelemahan yakni berpotensi menimbulkan resistensi (kebal) dan juga bisa meninggalkan residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Nah, pada artikel kali ini kami akan memaparkan tentang cara mengatasi hama wereng secara alami yang diharapkan akan dapat berguna bagi kalangan petani untuk mengatasi serangan hama wereng tanpa menimbulkan dampak yang berbahaya.
1. Hama Wereng
Hama wereng adalah sejenis serangga kepik terbang yang memiliki kebiasaan untuk menghisap cairan tanaman. Wereng dibedakan menjadi 3 jenis yakni wereng hijau, wereng coklat dan wereng punggung putih.
Serangga ini biasa bergerak dalam kawanan yang banyak dan mampu berpindah tempat dengan terbang hingga 100 Km. Perkembangbiakan wereng juga tergolong sangat cepat sehingga ia akan menguasai suatu wilayah dengan cepat.
Selain menghisap cairan tanaman ternyata wereng juga mampu menularkan virus tungro yang tentu saja berbahaya bagi tanaman. Pengendalian secara kimia hingga kii adalah dengan menggunakan insektisida tipe kontak dan sistemik berbahan aktif sipermetrin ataupun imadikoplorid. Namun demikian ternyata wereng bisa menjadi resisten terhadap bahan aktif kimia yang digunakan terus-menerus.
2. Pencegahan Hama Wereng
Serangan hama wereng bisa diminimalisir dampaknya jika kita tahu persiapannya. Cara paling awal ialah dengan menanam varietas padi yang tahan wereng. Tujuannya adalah meskipun terjadi serangan wereng namun kerusakan yang ditimbulkan akan sangat minim.
Namun perlu diingat bahwa jangan sampai anda menanam satu jenis padi secara terus menerus karena wereng mampu membentuk biotipe yang ganas untuk menyesuaikan dengan jenis padi yang tahan wereng sekalipun. Jadi anda harus melakukan pergiliran varietas padi yang ditanam.
Cara selanjutnya adalah dengan memutus rantai perkembangan wereng dengan cara melakukan pergiliran tanam dengan tanaman lain. Selain itu jaak tanam padi pun harus diperhatikan karena jarak tanam yang terlalu dekat akan menyebabkan ledakan populasi hama wereng.
3.Menggunakan Pestisida Bawang Putih
Bawang putih sudah sejak lama dikenal memiliki banyak manfaat untuk manusia. Bahkan kini sudah sering dijadikan pestisida alami berspektrum luas karena sifatnya yang multifungsi sebagai insektisida, fungisida dan bakterisida sekaligus.
Harganya yang terjangkau juga menjadikannya sebagai terobosan favorit para petani dalam membuat pestisida alami yang terjangkau. Jika pestisida kimia dapat menimbulkan resistesi terhadap hama sasaran jika digunakan secara terus menerus maka bawang putih ini tidak akan menimbulkan resistensi.
Cara kerja bawang putih sebagai pestisida yang pertama adalah melalui baunya yang menyengat akan membuat banyak serangga menjauh dan jika serangga terkena cairan bawang putih atau tak sengaja menelannya amaka yang terjadi adalah keracunan tingkat rendah dimana wereng akan kehilangan nafsu makan dan gagal ganti kulit. Tentu saja ahal ini akan menyebabkan hama wereng menjadi sakit dan serangannya menurun diikuti menurunnya daya tahan tubuhnya sendiri.
Memang butuh waktu agak lama agar hama wereng bisa mati karena kinerja insektisida bawang putih tak seinstan insektisida kimia. Hal inilah yang menjadi sisi kelemahan pestisida alami yaitu daya kerjanya yang memang lambat dan kadang harus diulang-ulang aplikasinya karena sifatnya yang mudah menghilang karena panas matahari maupun oleh guyuran air hujan.
Selasa, 25 Desember 2018
Cara Mencegah Dan Mengobati Penyakit Bulai Pada Jagung
PATOGEN (PENYEBAB PENYAKIT BULAI JAGUNG)
Penyebab bulai yang umum pada jagung di Indonesia ada lah Peronosclerospora maydis di Pulau Jawa dan Pulau Madura) dan P.philippinensis di Pulau Sulawesi. P. philippinensis juga menyebar di berbagai penjuru dunia. Protista mirip cendawan tetapi berkerabat lebih dekat dengan alga ini bersifat parasit obligat (wajib). Alat perbanyakan/penyebaran utamanya adalah spora vegetatif yang dihasilkan oleh badan yang disebut konidia (sehingga sporanya disebut juga konidiospora). Konidia dapat bertahan bertahun-tahun sebelum tumbuh kembali. Proses infeksi terjadi jika ko nidia disebarkan dinihari sekitar pukul 02.00 – 04.00 karena sporalisasi maksimum terjadi pa da saat itu. Infeksi dilakukan oleh konidia melalui stomata. Pada siang hari tidak terjadi infeksi karena pelepas an konidia terhenti, diduga konidia tersebut tidak tahan terhadap ca haya matahari. Penyebaran konidispora dilakukan oleh angin
PENCEGAHAN PENYAKIT BULAI JAGUNG
Perlakuan Benih, Sebelum ditanam sebaiknya benih dicampur terlebih dahulu dengan fungisida yang berbahan aktif dimetomorf (Renon, akrobat, Sirkus, dll)
Lakukan Penyemprotan ketika tanaman jagung berumur 1 minggu hingga 35 hst dengan fungisida berbahan aktif iprodium dan menggunakan obat carbio dengan dosis 15-25cc setiap 17 liter air, semprotkan dengan jarak 7 hari
Pemupukan pertama sebaiknya jangan menggunakan urea, gunakan Phonska + SP, atau bisa juga ditambah ZA dan Organik. Selanjutnya pemupukan tahap kedua gunakan pupuk ZA+Ponska+organik dan pemupukan terakhir gunakan Urea.
Taburi lahan dengan bahan organik seperti pupuk kandang, Bhokasi, sebelum lahan ditanami.
Cara Pengendalian yang Efektif
Langkah Pertama
Siapkan alat dan bahan yaitu hand preyer dan air biasa
Hand speyer yang telah berisi air biasa di semprotkan pada tanaman dan lahannya pada jam 04.00 s/d 05.30 pagi, mulai tanaman berumur 7 s/d 21 hari setelah tanam
Dengan melakukan hal tersebut maka dapat menekan perkembangan spora bulai, sehingga tanaman tidak terseranga oleh penyakit bulai.
Langkah Kedua
Siapkan alat dan bahan yaitu hand preyer dan air biasa dan fungisida
Hand speyer yang telah berisi air biasa dan fungisida di semprotkan pada tanaman dan lahannya pada jam 04.00 s/d 05.30 pagi, mulai tanaman berumur 7 s/d 21 hari setelah tanam
Dengan melakukan hal tersebut maka dapat menekan perkembangan spora bulai, sehingga tanaman tidak terseranga oleh penyakit bulai.
Penyebab bulai yang umum pada jagung di Indonesia ada lah Peronosclerospora maydis di Pulau Jawa dan Pulau Madura) dan P.philippinensis di Pulau Sulawesi. P. philippinensis juga menyebar di berbagai penjuru dunia. Protista mirip cendawan tetapi berkerabat lebih dekat dengan alga ini bersifat parasit obligat (wajib). Alat perbanyakan/penyebaran utamanya adalah spora vegetatif yang dihasilkan oleh badan yang disebut konidia (sehingga sporanya disebut juga konidiospora). Konidia dapat bertahan bertahun-tahun sebelum tumbuh kembali. Proses infeksi terjadi jika ko nidia disebarkan dinihari sekitar pukul 02.00 – 04.00 karena sporalisasi maksimum terjadi pa da saat itu. Infeksi dilakukan oleh konidia melalui stomata. Pada siang hari tidak terjadi infeksi karena pelepas an konidia terhenti, diduga konidia tersebut tidak tahan terhadap ca haya matahari. Penyebaran konidispora dilakukan oleh angin
PENCEGAHAN PENYAKIT BULAI JAGUNG
Perlakuan Benih, Sebelum ditanam sebaiknya benih dicampur terlebih dahulu dengan fungisida yang berbahan aktif dimetomorf (Renon, akrobat, Sirkus, dll)
Lakukan Penyemprotan ketika tanaman jagung berumur 1 minggu hingga 35 hst dengan fungisida berbahan aktif iprodium dan menggunakan obat carbio dengan dosis 15-25cc setiap 17 liter air, semprotkan dengan jarak 7 hari
Pemupukan pertama sebaiknya jangan menggunakan urea, gunakan Phonska + SP, atau bisa juga ditambah ZA dan Organik. Selanjutnya pemupukan tahap kedua gunakan pupuk ZA+Ponska+organik dan pemupukan terakhir gunakan Urea.
Taburi lahan dengan bahan organik seperti pupuk kandang, Bhokasi, sebelum lahan ditanami.
Cara Pengendalian yang Efektif
Langkah Pertama
Siapkan alat dan bahan yaitu hand preyer dan air biasa
Hand speyer yang telah berisi air biasa di semprotkan pada tanaman dan lahannya pada jam 04.00 s/d 05.30 pagi, mulai tanaman berumur 7 s/d 21 hari setelah tanam
Dengan melakukan hal tersebut maka dapat menekan perkembangan spora bulai, sehingga tanaman tidak terseranga oleh penyakit bulai.
Langkah Kedua
Siapkan alat dan bahan yaitu hand preyer dan air biasa dan fungisida
Hand speyer yang telah berisi air biasa dan fungisida di semprotkan pada tanaman dan lahannya pada jam 04.00 s/d 05.30 pagi, mulai tanaman berumur 7 s/d 21 hari setelah tanam
Dengan melakukan hal tersebut maka dapat menekan perkembangan spora bulai, sehingga tanaman tidak terseranga oleh penyakit bulai.
Langganan:
Postingan (Atom)